SHUNYAT
October 8th, 2008 by chrysalyst
Setitik KATA merusak sepinya hati
Setitik KATA merusak sepinya hati
Hari ini genap tanggal 1 Desember 2008
Terbitnya matahari menandai sebuah event yang amat ditunggu-tunggu umat Islam, barangkali persis seperti orang-orang yang menunggu season teranyar American Idol (;p).
Yep, it’s that time of the year coming back again. Month of Fasting (Ramadhan).
Dan sayapun hanya semikro dari makronya Muslim yang berpuasa.
Kembali, segala salam dan ucapan bertebaran di jagat maya dan realita. Semua mengharap pengampunan dosa, pemasukan pahala ke dalam Afterlife’s saving account mengalir 2x lebih deras dibanding bulan2 sebelumnya, de es be de es te. Intinya, kembali bulan ini adalah perlombaan memoles diri layaknya perhiasan yang kusam karena jarang dirawat. Memoles diri, agar Tuhan terpikat.
Adakah yang namanya ironi di dalamnya?
Ya, dan ya, karena sebagian dari kita justru menipu diri sendiri. Kenapa baru sekarang memoles diri sedangkan di bulan2 sebelumnya kita hambur-hamburkan segala ego yang bersemayam di hati? Kenapa baru sekarang berlagak sok suci? Atau memang dari dahulu kita berlagak sok suci? Hai, bulan puasa bukan sepenuhnya dipakai di masjid demi memenuhi keegoisan berkedok kenikmatan akhirat.
Saya paham kenapa kita tak pernah merasa cukup pahalanya. Emang pahala itu apaan sih? Gimana cara ngitungnya? Apa landasan yang menunjukkan bahwa pahala eksis? Dan apakah nilai hitung berasa khayalan inikah yang menyebabkan kita lupa pada saudara-saudara kita? Mereka-mereka yang tidak puasa karena desakan ekonomi mengharuskan mereka banting tulang dari pagi hingga malam. Mereka-mereka yang tidak puasa karena kata mereka "Buat apa? Saya sudah berkali-kali puasa, sujud dari Subuh hingga Isa’ menjelang, namun rumah saya masih karton bekas. Apa Kanjeng Gusti Allah tega menelantarkan saya lantaran saya harus cari uang siang malam hingga lupa merapal Al Quran?"
Bulan Ramadhan ini, barangkali saya tidak menginginkan pahala. Saya menginginkan ketenangan hati. Beberapa bulan terakhir ini saya merasa hilang arah hilang tujuan. Barangkali homesick effect. Saya seperti kehilangan kemampuan untuk survive.
Maka biarlah pahala itu menjelma jadi hasil jerih payah saya, bukan nominal khayal. Dan saya pun berharap, pahala-pahala yang selalu kita elu-elukan itu sesungguhnya adalah hasil kerja keras manusia untuk membangun bangsa dan menciptakan keharmonisan antar suku, ras, negara, dan syukur-syukur persatuan semua umat dari sejuta keyakinan yang ada.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
(Tulisan pertama setelah hiatus panjang. Maaf kalo rada kagok)
Sudah berapa lama aku berjalan?
Sudah seberapa panjang jalan yang kutempuh?
Ah, tak berani aku lihat ke belakang
Takut, aku takut melihat duri-duri yang melukaiku
Layaknya Orpheus, lihat ke belakang dan istrimu milikku
begitu kata Hades.
Maka mengingat kembali sama saja menggali luka
Lebih baik kutinggalkan saja mereka
Dalam labirin inipun tak lekang
Ragam warna berganti rupa
(konon mereka pun akan menjadi ingatan
tak apa, aku pasti lupa)
Kadang aku nyinyir melihatnya
Mereka yang berwarna terang
berlaga di hadapan para jelaga
"Mari sini, lihat kami yang beruntung
kami adalah wali, yang seharusnya memimpin
bujuklah pemimpinmu kini, sebab ia juga jelaga
jelaga memimpin jelaga, mau dibawa kemana?"
Para jelaga berlutut, bukan tanda penyerahan
tak tahu apa yang harus dilakukan
Ingin kuambil sejumput bara hitam di muka mereka
dan kulempar kepada Sang Gemilang, serukan
"Ha, sekarang engkaupun jadi jelaga!"
Tidak padaku sekarang, aku terus berjalan
karena aku pasti lupa akan mereka
Si jelaga dan si terang.
.
.
.
.
bersambung…….
Katanya
Kalau nasi terlanjur jadi bubur
taburkan saja bawang goreng, seledri, kecap, dan daging ayam
Jadilah dia semangkuk bubur ayam
yang enak dimakan
Namun,
jika nasi
terus-terusan menjadi bubur
Sebanyak apapun bawang goreng, seledri, kecap, dan daging ayam
yang kita punya,
lama-lama kita pasti jemu
Terus-terusan makan bubur ayam melulu
(Inspired by Remi Sylado and the unsolved problems that keep coming)
Tick tock tick tock, sang the clock
On his lovely den, the wooden block
I, the eternal hermit
Sat peacefully, rhyming with his echo
……….an innocent obedience
Tick tock tick tock, the clock wouldn’t stop
As if time an endless drop
Dripping calmly, away from me
Leaving no traces, even a spot
Tick tock tick tock, now hymn the clock
You, said him, the eternal hermit
Whining hopelessly, strolling
Following me as if The Fool had enchanted you
Yet The Fool has no power against you
You decided to go with him
Across the path of vague doom, you walked through
Dropping dignities, escaping realities
Arrived in my place, ashamed of yourself
Tick tock tick tock, the clock swayed
I see your moment has ended
And I, the eternal hermit
Lost in past time faults
Shall recite
My incarnation
The guardian of space continuum
Uhui, sodare-sodare. Aye balik lagi!!!
Hmmm….kali ini saya sedang berada di Markas Besar (aka kamar tidur gw), mendengarkan Theme of Laura-nya Akira Yamaoka sembari mengunyah Weetbix Crunch Honey. Bagi yang belum tahu, Weetbix adalah sejenis sereal berbentuk persegi. Mengandung 97% persen whole grain alias gandum aseli, katanya kardusnya gitu. Walopun Weetbix tuh logikanya buat sarapan, dasar gw yang bandel, gw malah menjadikan dirinya sebagai cemilan alternatif selain cokelat Maltesers. FYI, jangan ikuti gaya hidup seperti ini, ga sehat! Huehuehue :))
Anyway…
Berhubung gw ga punya sesuatu yang rada bermutu buat dibahas, mending gw nulis tentang lagunya Akira Yamaoka aja.
Sedikit penjelasan background, Akira Yamaoka adalah main composer lagu2 video game. Salah satu hasil karyanya yang terkenal adalah soundtrack Silent Hill series, Theme of Laura yang barusan gw dengerin contohnya.
Theme of Laura adalah salah satu soundtrack dari Silent Hill 2. Bila ada pembaca yang merasa familier dengan komposisi-komposisi Yamaoka-san pasti bisa mengenali ciri-ciri khasnya. Yup, mellow-mellow gimanaaa gitu. Suram, persis game-nya. However, Theme of Laura tidaklah terlalu suram, malah cenderung cukup menghentak dengan beat drum yang dinamis. Cocoklah buat lagu pas naik mobil :p.
EDIT: Tiba-tiba gw pingin ngebahas soundtrack game di Mp3 gw.
Yak, berhubung gw lagi mood, berikut adalah daftar soundtrack game yang gw punya:
1. Dearly Beloved by Kaoru Wada (Kingdom Heart 2)
2. Real Emotion Jap. vers. by Kouda Kumi (Final Fantasy X-2)
3. Hikari PlanitB Remix & original vers by Utada Hikaru (Kingdom Heart)
4. Parasite Eve soundtrack by Yoko Shimomura:
a. Primal Eyes (main theme)
b. Overture from ‘La Mia Verita’
c. Se Il Mio Amore Sta vocalse & complete version.
d. Theme of Aya
e. U.B (Final Boss battle theme)
f. Somnia Memoria (Ending theme)
5. .hack//G.U :
a. Opening Demo
b. Terror of Death
6. Silent Hill soundtracks by Akira Yamaoka:
a. Theme of Laura (Silent Hill 2)
b. Promise (S.H 2)
c. Hometown (sung by Joe Romersa. Main theme of all Silent Hill)
7. Final Fantasy Advent Children by Nobuo Uematsu:
a. Tatakau Mono Tachi!! Let’s Fight! (Bahamut Shin battle theme)
b. Sairin: Kata Tsubasa no Tenshi; One-Winged Angel
(Sephiroth’s Main them)
8. Kiss Me Goodbye English vers. by Angela Aki (Final Fantasy 12)
(To be honest, gw ga suka lagu2 game versi Inggris. Kadang terjemahannya suka nggak pas di kuping, kayak Kiss Me Goodbye ini).
9. From The New World opening by Yoshitaka Hirota (Shadow Hearts From The New World)
10. Persona 2 Eternal Punishment opening by Toshio Tasaki (Persona 2 Eternal Punishment)
Wih, banyak banget ya!
Bagi yang pengen download lagu2 game, gw saranin ke bluelaguna aja. Koleksinya lumayan lengkap kok. Ato kalo ada yang nemu link lain kasih tahu gw ya!!!
Ah…the memories.
Entah kenapa tiap kali gw dengerin soundtrack diatas gw jadi inget masa-masa ketika gw masih menjadi seorang game freak. Kalo pas libur, habis bangun tidur langsung ngejogrok di depan TV, joystick di tangan. Proses ini berlangsung sampai jam setengah 8, kadang lebih, diselingi dengan break mandi dan sarapan, trus beraksi kembali!!!!
Duh, bener-bener parah deh gw.
Berhubung gw ga bisa bawa PS2 gw ke Sydney (dengan alasan bakal ngeganggu kuliah gw. Lagian, CD PS disini harganya kurang ajar, 75 dolar. Itu mah biaya belanja sebulan!), terpaksalah gw berusaha memfokuskan diri pada hal-hal lain kayak nonton TV ato ngenet. Namun, otak gw serasa ga rela melepaskan kenangan ketika berhasil menyelesaikan Silent Hill 3 maupun keselnya hati ketika tiba2 CD Final Fantasy X-2 macet di tengah2. Damn! Padahal udah hampir finish tuh!
Lucunya, gw selalu menghindari maen game-game yang mengandung excessive violence and gore malem-malem. Aneh, padahal game semacam Silent Hill, Resident Evil, dan konco-konconya paling pas kalo dimainkan sekitar jam 12 tengah malam. Suasana mendukung bo! Apalagi kalo pake Plasma TV super gede plus sound system keren, dijamin Anda tidak akan melupakan tiap-tiap momen dimana jantung Anda copot berkali-kali, literally.
Still, gw bukan seorang daredevil yang rela berkorban sebegitu besarnya.
Dan sekarang, ketika gw mendengarkan lagu-lagu game, gw tiba-tiba teringat akan keyboard gw yang gw wariskan pada adek gw. Gw pingin banget bikin lagu game!
Berhubung lagi, gw lagi hot-hotnya ngerjain proyek novel gw yang baru, jadi gw pingin banget ngasih sentuhan musikal pada tiap karakter gw. Hopefully gw bisa ngebawa novel gw ke Jepang trus ditawarin ke produser anime/game trus dibikin movie/anime/game-nya. Wuih! Subhanallah tuh!
Yak, semangat gw kembali berkobar. Ganbatte!!!! ^_^ V.
Hahaha….
Hmm….
Huh, udah lama ga nge-blog ternyata bikin kangen juga ya. Terhitung sudah lebih dari 2 bulan gw ga ngepos apa-apa gara-gara tersita waktunya buat ngerjain tugas sama belajar. Rupanya beginilah nasib seorang mahasiswa (hahaha baru nyadar!)
Eniwei,
Ya ampun! Ternyata gw udah lima bulan menetap di Osie. Gile, gak kerasa banget. Time passes by like a soft flow of a wind on the face, you know it and you ignore it and just realized it at the end. Damn! So unbelieveable. And next month I’m gonna have the battle of my life: The Final Exam. Parah ga sih?
Ok, karena udah begitu banyak hal yang udah gw alamin jadi amatlah susah kalau semuanya diceritakan dalam satu halaman posting. Karena saya tidak ingin menyusahkan para pembaca dengan menyisipkan solilokui rumit, maka disini saya hadirkan rangkuman kisah saya mulai dari Januari 2007 sampai detik ini…
1. Near the end of January 2007:
Whew, at last I arrived in Sydney. Perasaan gw saat itu bener-bener….lain. Bukan kayak anak yang baru pertama kali ke luar negeri, bukan juga sebagai seorang expert yang udah puluhan kali naik pesawat ke belahan dunia yang lain. It’s much like a homecoming to me, since I’ve been here 3 years ago. However, mental gw bener-bener masih mental turis. Gimana enggak? Sejak hari pertama dateng kegiatan gw yang pertama adalah jalan-jalan. Entah itu menyusuri Glebe Point Road (tempat homestay gw), kesasar di Royal Botanical Garden, sampe sightseeing di Manly Beach. Pokoknya tiap hari diwarnai dengan rekreasi, aside from small business like opening a bank account or studying at Sydney College of English (yup, gw sempet ambil kursus 2 minggu despite the fact that it’s pointless because it was just the same as EF and it cost me 720 bucks). The worst thing was, I missed MUSE concert @ 24 & 25! Worstworstworstxxxxx&%&$#(*&#!!!!!
2. February 2007
Kehebohan dimulai dari bulan ini, dimana gw kudu menemukan apartemen dan segala tetek bengeknya. Kegiatan jalan-jalan masih lanjut walaupun frekuensinya sudah berkurang. Orientasi mahasiswa dimulai pas minggu ketiga, di minggu ini juga Alhamdulilah aku udah tanda tangan kontrak flat jadi tinggal masalah pindahan doang yang kurang. Minggu keempat mengakhiri masa-masaku sebagai turis dan mengawali kehidupan mahasiswaku. FYI, di Uni mboten enten wong Indo satu pun! Be proud, Indonesia!
3. Maret 2007
Seharusnya minggu pertama kuliah adalah masa yang penuh harapan. Salah besar. Di hari kedua kuliah aku tahu bahwa something’s not right. Aku baru tahu kalo subjectku (Interpreting & Translating) membutuhkan MANDARIN LEVEL 3, sedangkan levelku…yah…tahu sendiri lah. Mana gw tahu? Lha wong di buku panduan Uni informasinya ga jelas. Ya sudah, di minggu itu juga gw ngurus pindah subject, which was surprisingly quick b’cos all I had to do was just re-write the registeration form and sent it via e-mail. So, finally I chose Bachelor of Art with English Text and Writing as my Major. Hm, not a bad choice. The only thing that make me suffer is only Australia & The World (salah satu mata kuliah utama beside Media and Visual Culture), ya gimana ga tersiksa gw kalo kudu belajar sejarahnya Osie. Sejarah Indo aja belum khatam, hiks, hiks. Pada bulan ini juga tugas-tugas (mostly essay) berdatangan. Rata-rata kudu selesai next month.
4. April 2007
Tugas-tugas semakin ganas, pelajaran semakin ganas. Gw semakin kegencet, untungnya ga sampe gepeng kayak dadar. Fortunately enough most of the subjects satisfy my interests. They’re weird, hehehe. Contohnya aja kayak Everyday Life, dimana kita kudu menganalisa kegiatan sehari-hari,e.g: Sekolah, makan malam. Pokoknya kegiatan-kegiatan yang bagi kita ‘biasa banget’ ternyata mengandung implicit values which related with ruling power. I made a lot of friends, some of them take different subject but it doesn’t matter. Di minggu ketiga Tante gw pulang ke Indo, leaving me and my flat. Whew.
5. May 2007-present
So here I am typing on my keyboard inside the computer lab. About half hour latter I’ll be attending a workshop about managing anxiety during exam. Hope these resumes of my life in Aussie will satisfy you. Cheers!
Dan Akhirnya…..
Usai sudah segala keresahanku….
Tuntas sudah segala gundahku….
Ku akan letakkan tubuhku di atasmu…
Akan kureguk semua nikmatmu….
………………
…………….
…………..
……
….
Wahai tempat tidurku……..
(Tulisan ini dibuat dalam rangka merayakan keberhasilan daku dalam menyelesaikan tugas English Text & Writing which has taken half of my fuckin’ starry night!)
Pada suatu hari, aku menulis surat kepada seorang teman tentang keinginanku untuk meneliti agama dan persepsi mereka tentang The Supreme Being menurut versi mereka masing2. Dia bilang nggak boleh! Alasannya, karena Tuhan tuh mustahil untuk diteliti apalagi dikonsepkan dalam sebuah novel (yep, aku ngadain penelitian ini untuk proyek novel terbaruku).
Holoh, aku kan udah bilang kalo aku ‘cuma’ meneliti, bukan menyimpulkan. Lagian udah jelas kok kalo manusia itu cuma bisa menggunakan lima persen dari semua bagian otaknya, jadi jelas dong kalo aku nggak bakalan bisa menarik kesimpulan tentang Tuhan.
Ada ding kesimpulannya, bahwa Tuhan itu universal. Selanjutnya gw ga inget.
But the most important thing is: I Am Not Gonna Offense God! Aku masih hormat pada-Nya sehormat-hormatnya seorang hamba pada Sang Pencipta.
Pertanyaannya, kenapa gw bela-belain ngadain penelitian?
Alasan pertama udah jelas, buat proyek novel.
Alasan kedua, berkaitan dengan pertanyaan yang masih belum bisa kujawab ini.
Yang ketiga adalah lebih berupa luapan emosional daripada logika. Seperti yang udah sering banget kita liat di TV atau baca di majalah, banyak orang yang pada ngaku2 beriman pada Tuhan tapi kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan keimanannya. Segitu parahnya, sampe-sampe ada tukang kritik yang berani menulis bahwa "Tuhan itu seperti mesin" (Aku lupa yang nulis siapa. In fact, banyak banget yang menulis seperti ini). So I think, "Ok, if you think that God is a machine then I’ll give you the conception of God in the Machine". Kira2 kalo diterjemahin jadi bahasa Eskimo seperti ini: "Yo wis, lek koen kiro Gusti Allah iku koyo mesin, saiki tak ke’i konsepe Gusti Allah nang jerone mesin".
Konsep ini aku temukan setelah nonton anime yang judulnya Ghost in the Shell. Memang topik yang dibahas di film ini berbeda jauh dari topik yang akan gw bahas di novel ntar (ga tahu lagi kalo pemikiran ini bakal berubah, yang jelas topiknya sama), tapi kalau Ghost in the Shell ngebahas tentang eksistensi kemanusiaan, novelku ntar bakal ngebahas hubungan manusia dengan Tuhan dalam metafora super-computer yang bisa saja berakhir mengenaskan. Sekali lagi ini hanyalah metafora, dan sekali lagi aku tekankan bahwa aku tidak sekali-sekali menghina/merendahkan/melawan Tuhan by having this point of view.
Yak, cukup sekian dan terima kasih karena telah meluangkan waktu dan uang di warnet untuk membaca postingan ini.
Cheers!
I’m all alone in the flat
Tante meninggalkan daku dengan kejamnya ke Melbourne demi mengejar Kangmas Kimmi Raikonnen yang konon akan berlaga di F1 tanggal 18 Maret entar. Sementara beliau bersenang-senang, daku ketiban berbagai kewajiban yang seharusnya bisa dikerjakan bersama-sama seperti memasak, cuci baju, ngebersihin kamar, dsb.
Parahnya, disaat-saat seperti ini penyakit rindu rumahku kambuh.
Why, God? WHY???
*Nangis guling-guling* ;_; ;_; ;_;
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika kusendiri
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika
Ku sendiri
Detik demi detik
Kulalui
Hampa
Detik demi detik
Kulalui
Hampa
Dee….ttiiii…iiikkk…..dee…..mmmii….iii….dee…ttiikk….iiiikkk…..